Langsung ke konten

Creator Economy Adalah: Pengertian, Model Pendapatan, dan Tren di Indonesia

Creator economy adalah ekonomi tempat kreator mendapat uang langsung dari audiensnya. Simak model pendapatan, peran komunitas, tren Indonesia, dan cara mulai.

12 menit baca Tim TumbuhBareng
Ilustrasi flat kreator memegang ponsel di tengah, dikelilingi kartu video, buku kelas, tiga avatar anggota komunitas, tumpukan koin, hati, dan bintang

Creator economy adalah ekonomi tempat individu, yaitu kreator, membuat konten, produk, atau layanan lalu menjualnya atau memonetisasinya langsung ke audiens mereka lewat platform digital. Sumber uangnya beragam: bagi hasil iklan, kerja sama brand, dukungan penggemar, penjualan kelas, sampai keanggotaan komunitas berbayar. Intinya, kreator tidak lagi harus lewat penerbit, label, atau stasiun televisi untuk mendapat penghasilan dari karyanya.

Istilah ini sering terdengar besar dan jauh, padahal pelakunya bisa siapa saja: guru les yang mengajar lewat video, pemilik usaha kopi yang berbagi resep, fotografer yang menjual preset, atau konsultan keuangan yang membuka kelas pembukuan. Yang menyatukan mereka adalah satu hal, yaitu audiens yang percaya.

Artikel ini membahas pengertian creator economy, siapa saja pelakunya, model pendapatan kreator, kenapa komunitas berbayar dan kelas online makin penting, tren di Indonesia dengan angka yang bersumber, serta langkah memulai dari nol.

Pengertian creator economy

Menurut Wikipedia tentang creator economy, creator economy atau influencer economy adalah ekonomi berbasis platform tempat kreator memproduksi konten, produk, atau layanan dan mendistribusikannya langsung kepada audiens lewat media sosial dan teknologi baru. Model ini bertumpu pada kemampuan kreator membangun dan menjaga komunitas pengguna, lalu memonetisasinya lewat banyak saluran: iklan, sponsor, penjualan produk, crowdfunding, dan layanan berlangganan.

Halaman yang sama mencatat bahwa istilah "creator" diciptakan YouTube pada 2011 sebagai pengganti sebutan "YouTube star", yang saat itu hanya cocok untuk orang terkenal. Sejak itu, kata kreator dipakai untuk siapa saja yang membuat konten online.

Perlu dibedakan dengan ekonomi kreatif. Ekonomi kreatif mencakup seluruh industri berbasis kreativitas, termasuk film, musik, kriya, kuliner, dan desain, baik yang dijalankan perusahaan besar maupun perorangan. Creator economy lebih sempit: fokusnya pada individu atau tim kecil yang membangun audiens sendiri dan mendapat penghasilan dari hubungan langsung dengan audiens itu.

Ukurannya tidak kecil. Goldman Sachs Research pada April 2023 memperkirakan pasar creator economy global bisa naik dari sekitar USD 250 miliar menjadi USD 480 miliar pada 2027, dan memperkirakan jumlah kreator global sekitar 50 juta orang tumbuh 10 sampai 20% per tahun dalam lima tahun berikutnya.

Siapa saja pelaku creator economy

Creator economy bukan hanya soal kreator. Ada empat pihak lain yang menentukan ke mana uang dan perhatian mengalir.

Diagram ekosistem creator economy dengan kreator di tengah, terhubung ke audiens, platform media sosial, brand, serta alat dan layanan untuk kelas, komunitas, dan pembayaran
Kreator mendapat uang dari tiga arah (audiens, platform, brand) dan memakai alat untuk mengelola semuanya. Ilustrasi: TumbuhBareng
  1. Kreator. Orang yang membuat konten atau produk: YouTuber, podcaster, penulis newsletter, pengajar online, ilustrator, sampai praktisi yang berbagi keahliannya.
  2. Audiens. Penonton, pembaca, dan anggota. Mereka memberi perhatian, dan sebagian kecil di antaranya bersedia membayar langsung.
  3. Platform. Media sosial dan situs video yang mendistribusikan konten lewat algoritma, dan pada program tertentu membagi pendapatan iklan.
  4. Brand. Perusahaan yang membayar kreator untuk promosi, endorsement, atau afiliasi.
  5. Alat dan layanan. Tempat kreator menjual kelas, mengelola komunitas, dan menerima pembayaran.

Hubungan dengan audiens adalah aset paling berharga, karena tiga pihak lain sebenarnya membayar untuk mengakses audiens itu. Platform menjual perhatian audiens ke pengiklan, brand membayar untuk menjangkau audiens, dan alat dipakai untuk melayani audiens dengan lebih baik.

Model pendapatan kreator

Berikut model pendapatan yang paling umum, dibandingkan dari siapa yang membayar dan seberapa besar kendali kreator atasnya.

Model Siapa yang membayar Kendali kreator Stabilitas Catatan
Bagi hasil iklan Platform Rendah, aturan dan algoritma ditentukan platform Naik turun mengikuti penayangan Ada syarat kelayakan, misalnya Program Partner YouTube
Kerja sama brand Brand Sedang, tergantung kontrak Per kampanye Butuh jangkauan dan audiens yang jelas
Afiliasi Penjual produk lewat komisi Sedang Mengikuti penjualan Cocok untuk ulasan dan rekomendasi produk
Tip dan dukungan Penggemar Tinggi Sukarela, sulit diprediksi Di Indonesia ada layanan seperti Trakteer
Produk digital Pembeli Tinggi Per penjualan Template, ebook, preset, desain
Kelas online Peserta Tinggi Per angkatan atau per penjualan Nilai jelas karena ada hasil belajar
Keanggotaan komunitas Anggota, rutin tiap bulan Tinggi Paling stabil bila retensi terjaga Butuh aktivitas yang konsisten
Jasa dan konsultasi Klien Tinggi Terbatas oleh waktu kreator Sering jadi pendapatan awal pakar

Data Goldman Sachs memberi gambaran yang menarik: menurut survei yang mereka kutip, kerja sama brand menyumbang sekitar 70% pendapatan kreator. Artinya, sebagian besar kreator masih bergantung pada satu sumber yang ditentukan pihak lain.

Tentang syarat bagi hasil iklan, halaman bantuan YouTube menyebut salah satu jalurnya adalah 1.000 subscriber dengan 4.000 jam waktu tonton yang memenuhi syarat dalam 12 bulan terakhir, atau 1.000 subscriber dengan 10 juta penayangan Shorts yang memenuhi syarat dalam 90 hari terakhir. Syarat seperti ini bisa berubah sewaktu-waktu, dan itulah salah satu alasan kreator perlu sumber pendapatan yang ia kendalikan sendiri.

Peran komunitas berbayar dan kelas online

Tiga model terakhir di tabel, yaitu kelas, komunitas, dan jasa, punya kesamaan penting: audiens membayar kreator secara langsung. Tidak ada algoritma yang memutuskan apakah pendapatanmu bulan ini naik atau turun.

Diagram tangga pendapatan kreator berisi lima anak tangga: konten publik, kontak langsung, komunitas gratis, kelas atau produk, dan keanggotaan berbayar
Pengikut di media sosial adalah audiens pinjaman. Setiap anak tangga memindahkan sebagian dari mereka ke hubungan yang kamu kendalikan. Ilustrasi: TumbuhBareng

Bayangkan perjalanan audiens sebagai tangga:

  1. Konten publik. Orang mengenalmu lewat video, posting, atau artikel. Jumlahnya paling banyak, tetapi hubungannya paling longgar.
  2. Kontak langsung. Sebagian mau memberi email atau bergabung ke saluran milikmu.
  3. Komunitas gratis. Pengikut paling dekat berdiskusi rutin denganmu dan dengan sesama anggota. Panduan cara membangun komunitas online membahas tahap ini.
  4. Kelas atau produk. Anggota yang ingin hasil lebih cepat membeli kelas. Cara menyusunnya ada di panduan membuat kelas online, dan untuk format belajar bareng satu angkatan, lihat kelas berbasis kohort.
  5. Keanggotaan berbayar. Anggota membayar bulanan untuk akses berkelanjutan: kelas baru, sesi live, dan kebersamaan.

Kenapa anak tangga terakhir penting? Karena pendapatannya berulang. Seratus anggota yang membayar setiap bulan memberi gambaran pemasukan yang jauh lebih bisa diprediksi daripada satu kampanye brand. Pembahasan lengkap soal model, harga, dan cara menahan anggota ada di panduan cara monetisasi komunitas, sementara inspirasi topiknya ada di ide komunitas berbayar.

Keuntungan lain yang sering terlupa: komunitas membuat anggota saling membantu. Kreator tidak harus menjawab semua pertanyaan sendiri, karena anggota lama ikut menjawab anggota baru.

Tren creator economy di Indonesia

Beberapa angka berikut memberi gambaran skala creator economy di Indonesia. Perhatikan sumber dan definisinya, karena setiap lembaga menghitung "kreator" dengan cara berbeda.

  • Jumlah kreator. Dalam liputan iNews Surabaya pada 22 Desember 2024, Direktur Tata Kelola Ekonomi Digital Kemenparekraf, Yuana Rochma Astuti, menyebut jumlah konten kreator di Indonesia mencapai 17 juta, merujuk data Insert Market.
  • Kreator yang sudah berpenghasilan. Laman Komunikasi Universitas Islam Indonesia mengutip Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya bahwa dari 17 juta kreator itu, 8 juta sudah berpenghasilan di atas UMR.
  • Pasar yang terhubung internet. APJII mengumumkan jumlah pengguna internet Indonesia tahun 2024 mencapai 221.563.479 jiwa, dengan tingkat penetrasi 79,5%.

Di luar angka, ada beberapa pola yang terlihat jelas di lapangan:

  1. Dukungan langsung dari penggemar sudah lazim. Layanan lokal seperti Trakteer memungkinkan penggemar mengapresiasi kreator dengan nominal kecil, mirip mentraktir teman.
  2. Pembayaran digital makin mudah. QRIS, transfer virtual account, dan dompet digital membuat audiens Indonesia terbiasa membayar nominal kecil secara online. Pembahasan teknisnya ada di artikel membership berbayar dengan QRIS.
  3. Komunitas pindah dari grup chat ke tempat yang lebih tertata. Banyak komunitas berawal di grup WhatsApp atau Telegram, lalu kewalahan saat anggota bertambah. Perbandingannya ada di grup WhatsApp vs platform komunitas.
  4. Pakar dan pelaku usaha ikut menjadi kreator. Bukan hanya selebritas internet, tetapi juga pemilik UMKM, guru, dan praktisi yang menjual pengetahuan lewat kelas.

Realita yang jarang dibicarakan

Angka besar sering membuat creator economy terlihat seperti jalan pintas. Kenyataannya, pendapatan di dalamnya sangat timpang.

Goldman Sachs mencatat hanya sekitar 4% kreator global yang tergolong profesional, yaitu berpenghasilan lebih dari USD 100.000 per tahun. Bagian kritik di Wikipedia bahkan menyebut sebagian besar kreator tidak mendapat uang sama sekali dari karyanya, sementara keuntungan terbesar mengalir ke platform.

Ada tiga pelajaran praktis dari realita ini:

  • Jangan menggantungkan diri pada satu sumber. Algoritma dan aturan monetisasi platform bisa berubah tanpa aba-aba.
  • Jumlah pengikut bukan satu-satunya ukuran. Seratus orang yang mau membayar untuk kelas atau komunitasmu sering lebih bernilai daripada puluhan ribu pengikut yang hanya lewat.
  • Perlakukan sebagai usaha. Catat pemasukan dan pengeluaran, tetapkan jadwal kerja, dan ukur hasil. Kreator yang bertahan biasanya yang paling disiplin, bukan yang paling viral.

Cara memulai sebagai kreator

Berikut enam langkah yang kami sarankan, dari nol pengikut sampai pendapatan pertama.

Diagram enam langkah memulai sebagai kreator: satu topik dan satu audiens, satu platform utama, konsisten, kumpulkan kontak, produk pertama kecil, dan pendapatan berulang
Langkah 4 sampai 6 adalah saat kreator mulai memindahkan audiens ke saluran miliknya sendiri. Ilustrasi: TumbuhBareng
  1. Pilih satu topik dan satu audiens. "Foto produk pakai HP untuk penjual online" jauh lebih mudah diingat daripada "konten fotografi". Topik yang spesifik juga memudahkan kamu membuat kelas nanti.
  2. Fokus di satu platform utama. Pilih tempat audiensmu sudah berkumpul. Platform kedua bisa menyusul setelah ritmenya stabil.
  3. Konsisten sebelum berpikir viral. Jadwal yang realistis, misalnya dua konten per pekan, lebih berguna daripada sepuluh konten di bulan pertama lalu berhenti. Kalau bingung mau membuat apa, daftar ide konten komunitas bisa disesuaikan untuk konten publik.
  4. Kumpulkan kontak langsung. Ajak pengikut bergabung ke saluran milikmu, misalnya komunitas gratis. Sambut mereka dengan baik, contohnya bisa diambil dari contoh pesan sambutan komunitas.
  5. Uji produk pertama yang kecil. Kelas singkat atau template berharga terjangkau membantu kamu tahu apakah audiens benar-benar mau membayar, sebelum menghabiskan berbulan-bulan membuat kelas besar.
  6. Bangun pendapatan berulang. Ubah pembeli yang puas menjadi anggota komunitas berbayar dengan kelas lanjutan, sesi live, dan diskusi rutin. Fitur seperti leaderboard dan level bisa membantu anggota tetap aktif.

Saat sampai di langkah 4 sampai 6, kamu butuh tempat untuk diskusi, kelas, acara, dan keanggotaan. Perbandingan beberapa pilihan ada di artikel platform komunitas online Indonesia.

Contoh perjalanan seorang kreator

Supaya lebih konkret, berikut gambaran perjalanan yang sering terjadi. Tokohnya rekaan, tetapi polanya umum ditemui pada kreator yang berangkat dari keahlian sehari-hari.

Sebut saja Dewi, pemilik toko online kecil yang terbiasa memotret produknya sendiri dengan HP. Ia mulai membagikan tips memotret di satu platform video pendek, dua kali sepekan. Bulan-bulan pertama, penontonnya sedikit dan naik turun. Yang ia jaga hanya satu hal: tetap mengunggah sesuai jadwal dan membalas setiap pertanyaan di kolom komentar.

Pertanyaan yang berulang menjadi petunjuk. Banyak penonton bertanya hal yang sama soal cahaya, latar, dan sudut foto. Dewi lalu membuka komunitas gratis dan mengajak penonton yang paling sering bertanya untuk bergabung. Di sana ia mengadakan sesi tanya jawab bulanan dan meminta anggota mengunggah hasil foto untuk saling memberi masukan.

Dari diskusi itu, Dewi tahu persis apa yang paling dibutuhkan anggotanya. Ia menyusun kelas singkat berisi beberapa pelajaran tentang foto katalog dengan cahaya jendela, lalu menjualnya kepada anggota komunitas lebih dulu. Peserta pertama memberi masukan yang membuat kelasnya lebih rapi.

Setelah beberapa angkatan, Dewi menggabungkan kelas lanjutan, sesi live bulanan, dan ruang kritik foto ke dalam satu keanggotaan bulanan. Kontennya di media sosial tetap jalan sebagai pintu masuk, tetapi pendapatan utamanya kini datang dari anggota yang membayar rutin, bukan dari naik turunnya penayangan.

Perhatikan urutannya: konten, pertanyaan, komunitas, kelas kecil, lalu keanggotaan. Tidak ada lompatan langsung dari nol ke kelas mahal.

Kesalahan umum kreator pemula

  1. Mengejar semua platform sekaligus. Energi habis untuk menyesuaikan format, bukan untuk memperdalam isi.
  2. Menunggu pengikut banyak baru menjual. Produk kecil bisa diuji sejak audiens masih ratusan orang, asalkan mereka benar-benar tertarik pada topikmu.
  3. Hanya mengandalkan sponsor. Kerja sama brand menyenangkan, tetapi datang dan pergi sesuai anggaran brand.
  4. Membuka komunitas tanpa ritme. Komunitas berbayar yang sepi membuat anggota berhenti di bulan kedua. Tetapkan ritme mingguan sebelum membuka pendaftaran, dan baca panduan menjaga komunitas tetap aktif.
  5. Tidak menulis aturan. Begitu anggota bertambah, perbedaan pendapat pasti muncul. Siapkan aturan komunitas sejak awal.
  6. Mengerjakan semuanya sendirian terlalu lama. Ketika moderasi mulai menyita waktu membuat materi, saatnya mengangkat admin atau community manager.

Kesimpulan

Creator economy adalah ekonomi tempat kreator mendapat penghasilan langsung dari hubungan dengan audiensnya. Skalanya besar, baik secara global maupun di Indonesia dengan sekitar 17 juta kreator menurut data yang dikutip Kemenparekraf, tetapi pendapatannya timpang dan banyak kreator masih bergantung pada platform serta brand.

Kreator yang paling tahan banting biasanya membangun tangga pendapatan: konten publik untuk dikenal, kontak langsung untuk menjaga hubungan, komunitas untuk kebersamaan, lalu kelas dan keanggotaan berbayar untuk pendapatan berulang yang ia kendalikan sendiri.

Kalau kamu ingin mulai menaiki anak tangga komunitas dan kelas, kamu bisa membuat komunitas gratis di TumbuhBareng, lalu menambahkan kelas, acara, dan keanggotaan bulanan dalam Rupiah ketika siap. Lihat dulu contoh komunitas di halaman Jelajah dan pilihan paket di halaman Harga.

Sumber

  1. Wikipedia. Creator economy. en.wikipedia.org
  2. Goldman Sachs Research (2023). The creator economy could approach half-a-trillion dollars by 2027. goldmansachs.com
  3. YouTube Help. Ringkasan dan persyaratan kelayakan Program Partner YouTube. support.google.com
  4. iNews Surabaya (22 Desember 2024). Wamenparekraf Ajak Konten Kreator Indonesia Pahami Hak Kekayaan Intelektual. surabaya.inews.id
  5. Universitas Islam Indonesia, Prodi Ilmu Komunikasi. Memahami Hak Cipta sebelum Menjadi Kreator Konten. communication.uii.ac.id
  6. APJII (2024). APJII Jumlah Pengguna Internet Indonesia Tembus 221 Juta Orang. apjii.or.id
  7. Trakteer. trakteer.id

Pertanyaan yang sering muncul

Apa yang dimaksud dengan creator economy?

Creator economy adalah ekonomi berbasis platform tempat kreator membuat konten, produk, atau layanan lalu mendistribusikannya langsung ke audiens lewat media sosial dan teknologi digital. Pendapatannya bisa berasal dari iklan, sponsor, penjualan produk, dukungan langsung, dan langganan.

Apa bahasa Indonesia dari creator economy?

Istilah yang sering dipakai adalah ekonomi kreator. Konsep ini lebih sempit dari ekonomi kreatif, karena fokusnya pada individu yang membangun audiens sendiri dan memonetisasinya, bukan seluruh industri kreatif seperti film, musik, atau kriya.

Berapa jumlah kreator konten di Indonesia?

Pada Desember 2024, Direktur Tata Kelola Ekonomi Digital Kemenparekraf menyebut jumlah konten kreator di Indonesia mencapai 17 juta, merujuk data Insert Market. Angka ini estimasi, bukan hasil sensus resmi.

Dari mana saja kreator mendapat penghasilan?

Sumber yang umum adalah bagi hasil iklan dari platform, kerja sama dengan brand, komisi afiliasi, dukungan atau tip dari penggemar, penjualan produk digital, kelas online, keanggotaan komunitas berbayar, serta jasa seperti konsultasi.

Apakah harus punya banyak pengikut untuk menghasilkan uang?

Tidak selalu. Iklan dan sponsor memang bergantung pada jangkauan besar, tetapi kelas online dan komunitas berbayar bisa berjalan dengan audiens kecil yang sangat percaya kepadamu, selama masalah yang kamu bantu selesaikan jelas.

Kenapa komunitas berbayar penting bagi kreator?

Komunitas berbayar memberi pendapatan berulang setiap bulan dan hubungan langsung dengan anggota, sehingga kreator tidak sepenuhnya bergantung pada algoritma platform atau jadwal kampanye brand.

Apa syarat monetisasi YouTube?

Menurut halaman bantuan resmi YouTube, salah satu jalur kelayakan adalah 1.000 subscriber dengan 4.000 jam waktu tonton yang memenuhi syarat dalam 12 bulan terakhir, atau 1.000 subscriber dengan 10 juta penayangan Shorts yang memenuhi syarat dalam 90 hari terakhir. Syarat ini bisa berubah, jadi selalu cek halaman resminya.

Bagaimana cara memulai sebagai kreator dari nol?

Pilih satu topik dan satu audiens, fokus di satu platform utama, unggah konten secara konsisten, kumpulkan kontak langsung pengikutmu, uji produk pertama yang kecil, lalu bangun komunitas untuk pendapatan berulang.

Siap membangun komunitasmu?

Mulai gratis. Diskusi, kelas, dan acara dalam satu tempat.