Langsung ke konten

E Course: Pengertian, Jenis, Contoh, dan Cara Membuatnya

E course adalah kursus yang dipelajari lewat internet, berisi modul, video, materi, dan latihan. Pahami jenisnya, strukturnya, dan langkah membuat e course pertamamu.

10 menit baca Tim TumbuhBareng
Ilustrasi flat laptop dengan tombol putar video dan bilah kemajuan, kartu modul bercentang, lencana bintang, dan tiga avatar peserta

E course adalah kursus yang materinya disampaikan dan dipelajari lewat internet. Isinya disusun bertahap dalam modul, biasanya berupa video pendek, materi tertulis, latihan, dan tempat bertanya, sehingga peserta bisa belajar dari mana saja tanpa datang ke kelas fisik. Istilah ini berasal dari electronic course dan di Indonesia sering disebut juga kursus online atau kelas online.

E course dipakai banyak pihak: guru dan dosen, pelatih keterampilan, pemilik usaha yang ingin melatih tim, sampai kreator yang menjual keahliannya. Artikel ini menjelaskan pengertian e course, jenis-jenisnya, struktur yang mudah diikuti peserta, contoh topik, langkah membuat e course pertama, dan cara menjaga peserta tetap belajar sampai selesai.

Apa itu e course

E course adalah bentuk pembelajaran jarak jauh yang memakai internet sebagai ruang kelasnya. Pengajar menyiapkan materi lebih dulu, lalu peserta mempelajarinya lewat laptop atau ponsel. Bedanya dengan sekadar mengunggah video ke media sosial ada pada susunannya: e course punya urutan belajar, hasil akhir yang jelas, dan cara memeriksa apakah peserta sudah paham.

Ciri e course yang baik biasanya terlihat dari empat hal. Pertama, ada janji hasil yang spesifik, misalnya "bisa membuat laporan keuangan sederhana untuk usaha" atau "bisa memotret produk dengan ponsel". Kedua, materinya dipecah menjadi modul dan pelajaran yang berurutan. Ketiga, ada latihan sehingga peserta tidak hanya menonton. Keempat, ada jalur untuk bertanya ketika peserta buntu.

E course tidak harus panjang. Kursus tiga modul yang fokus pada satu keterampilan sering lebih berguna daripada kursus puluhan jam yang mencoba membahas semuanya. Panjang kursus sebaiknya mengikuti hasil yang dijanjikan, bukan sebaliknya.

Kalau kamu baru mengenal dunia belajar online secara umum, pembahasan dari sisi peserta ada di artikel belajar online. Artikel ini lebih banyak membahas dari sisi orang yang ingin membuat dan mengelola e course.

E course, webinar, dan MOOC

Tiga istilah ini sering dipakai bergantian, padahal bentuknya berbeda. Memahami bedanya membantu kamu memilih format yang cocok untuk materi dan calon pesertamu.

Webinar adalah seminar online, biasanya satu sesi langsung dengan satu topik. Webinar cocok untuk memperkenalkan topik atau menjawab pertanyaan, tetapi jarang cukup untuk membangun keterampilan yang butuh latihan bertahap.

MOOC adalah singkatan dari massive open online course. Menurut Wikipedia, istilah MOOC dicetuskan pada 2008 oleh Dave Cormier, dan format ini menjadi populer sekitar 2012. MOOC dirancang untuk peserta dalam jumlah sangat besar dan umumnya terbuka bagi siapa saja.

E course adalah payung yang lebih luas. Ia bisa berupa MOOC, tetapi lebih sering berupa kursus untuk kelompok kecil, berbayar, dan dikelola langsung oleh pengajarnya.

Format Bentuk Durasi umum Cocok untuk
Webinar Satu sesi langsung Satu sesi Perkenalan topik, tanya jawab
E course mandiri Modul rekaman berurutan Beberapa hari sampai pekan Keterampilan yang bisa dipelajari sendiri
E course kohort Modul plus sesi langsung terjadwal Beberapa pekan Keterampilan yang butuh umpan balik
MOOC Kursus terbuka berskala besar Beberapa pekan Pengetahuan umum untuk peserta sangat banyak
Bootcamp Program intensif berjadwal Beberapa pekan sampai bulan Peralihan karier atau keterampilan teknis

Format intensif yang mirip e course kohort tetapi lebih padat dibahas di bootcamp online. Sedangkan pendampingan satu lawan satu lebih dekat ke mentoring online dan coaching online.

Tiga jenis e course

Selain dibedakan dari formatnya, e course juga bisa dibedakan dari cara pesertanya belajar. Pilihan ini memengaruhi cara kamu menyusun materi, menetapkan harga, dan membagi waktu sebagai pengajar.

Diagram tiga jenis e course: mandiri berisi materi rekaman, kohort dengan jadwal bersama dan sesi langsung, serta hibrida yang menggabungkan materi rekaman dengan komunitas
Tiga jenis e course berdasarkan cara belajarnya. Banyak pengajar memulai dari jenis mandiri, lalu menambahkan komunitas setelah ada peserta. Ilustrasi: TumbuhBareng

E course mandiri. Semua materi sudah direkam dan disusun. Peserta bisa mulai kapan saja dan belajar sesuai waktunya. Jenis ini paling mudah dijual berulang, tetapi interaksi dengan pengajar terbatas, sehingga peserta yang buntu bisa berhenti di tengah jalan.

E course kohort. Peserta mulai dan selesai bersama dalam satu angkatan, dengan sesi langsung, tugas, dan umpan balik setiap pekan. Ritme bersama membantu peserta tetap jalan, tetapi pengajar harus hadir sesuai jadwal dan jumlah peserta per angkatan biasanya dibatasi. Pembahasan lengkapnya ada di kelas berbasis kohort.

E course hibrida. Materi inti tetap berupa rekaman, tetapi peserta juga bergabung ke komunitas untuk berdiskusi dan mengikuti acara tanya jawab rutin. Peserta mendapat fleksibilitas dari rekaman sekaligus rasa ditemani dari komunitas. Bentuk ini dekat dengan konsep komunitas belajar.

Struktur e course yang mudah diikuti

Struktur yang rapi membuat peserta tahu sedang berada di mana dan apa langkah berikutnya. Pola yang umum dipakai adalah kursus, modul, lalu pelajaran.

Diagram struktur e course: satu kursus dengan hasil akhir, dipecah menjadi modul dasar, praktik, dan proyek, tiap modul berisi pelajaran pendek, materi tertulis, latihan, tempat bertanya, dan rangkuman
Kursus dipecah menjadi modul, dan modul dipecah menjadi pelajaran pendek. Setiap modul sebaiknya berakhir dengan latihan. Ilustrasi: TumbuhBareng
  1. Kursus punya satu hasil akhir yang jelas. Tulis kalimat "setelah kursus ini, kamu bisa ..." sebelum membuat materi apa pun.
  2. Modul adalah tahap besar menuju hasil itu. Urutan yang sering berhasil adalah dasar, praktik, lalu proyek, sehingga peserta pelan-pelan beralih dari memahami ke mengerjakan.
  3. Pelajaran adalah unit terkecil, idealnya satu topik untuk satu video atau satu halaman materi. Pelajaran yang pendek lebih mudah diselesaikan dan dicari ulang.
  4. Latihan di akhir modul membuat peserta mempraktikkan materi. Bentuknya bisa kuis, lembar kerja, atau tugas kecil yang hasilnya dibagikan.
  5. Tempat bertanya mencegah peserta buntu sendirian. Diskusi per modul atau komunitas peserta sama-sama bisa dipakai.

Struktur seperti ini juga memudahkan kamu memperbarui materi. Kalau satu alat berubah tampilannya, cukup ganti satu pelajaran, bukan merekam ulang seluruh kursus.

Contoh topik e course yang dicari orang

Topik e course yang laku hampir selalu menjawab masalah yang spesifik dan mendesak. Berikut contoh topik dan bentuk hasil akhirnya. Contoh ini untuk memberi gambaran susunan, bukan jaminan permintaan, jadi tetap validasi dengan calon pesertamu sendiri.

Bidang Contoh topik Hasil akhir yang dijanjikan
Usaha kecil Pembukuan sederhana untuk warung Laporan arus kas bulanan yang rapi
Kreatif Foto produk dengan ponsel Sepuluh foto katalog siap unggah
Karier Menyusun CV dan portofolio CV dan portofolio yang siap dikirim
Bahasa Percakapan bahasa Inggris untuk kerja Bisa memimpin rapat singkat dalam bahasa Inggris
Teknologi Spreadsheet untuk administrasi Templat rekap otomatis untuk timmu
Hobi Dasar menjahit atau kerajinan Satu karya selesai dari awal sampai akhir

Perhatikan bahwa setiap hasil akhir berbentuk sesuatu yang bisa dilihat atau dipakai. Hasil akhir yang konkret memudahkan calon peserta memutuskan membeli, sekaligus memudahkan kamu menyusun modul.

Langkah membuat e course pertama

Kesalahan paling umum adalah langsung membeli kamera dan merekam berjam-jam materi sebelum tahu ada yang mau belajar. Urutan berikut membalik kebiasaan itu.

Diagram lima langkah membuat e course: validasi topik, susun kurikulum, buat materi, siapkan tempat belajar, lalu luncurkan dan perbaiki
Lima langkah membuat e course pertama. Validasi di langkah pertama mencegah kamu merekam materi yang tidak dicari orang. Ilustrasi: TumbuhBareng
  1. Validasi topik. Bicarakan masalah calon peserta di grup, media sosial, atau komunitasmu. Kalau memungkinkan, tawarkan kursus sebelum direkam, misalnya sebagai angkatan pertama dengan harga perkenalan, lalu rekam materi berdasarkan pertanyaan mereka.
  2. Susun kurikulum. Mulai dari hasil akhir, lalu turunkan menjadi tiga sampai lima modul dan pelajaran di dalamnya. Coret materi yang tidak membantu peserta mencapai hasil akhir.
  3. Buat materi. Rekam video pendek dengan suara yang jelas, siapkan lembar kerja atau ringkasan tertulis, dan buat latihan per modul. Kualitas suara biasanya lebih penting daripada kualitas gambar.
  4. Siapkan tempat belajar. Pilih platform yang mengatur akses peserta, menampilkan materi berurutan, dan menerima pembayaran yang biasa dipakai pesertamu.
  5. Luncurkan dan perbaiki. Kumpulkan pertanyaan dan masukan dari angkatan pertama, lalu perbaiki pelajaran yang paling sering membuat peserta bingung.

Panduan yang lebih rinci soal menyusun dan menjual kelas, termasuk menentukan harga, ada di cara membuat kelas online. Kalau kursusmu akan dijual sebagai produk satuan, baca juga cara jual produk digital.

Memilih tempat memasang e course

Setelah materi siap, kamu perlu tempat untuk menyimpan, membagikan, dan menjualnya. Ada beberapa pilihan, masing-masing dengan kelebihannya.

Learning management system (LMS) cocok untuk lembaga yang butuh fitur administrasi pembelajaran lengkap, seperti penilaian dan laporan. Penjelasannya ada di learning management system, dan pilihan tanpa biaya dibahas di LMS gratis.

Platform kursus dan e-learning memudahkan pengajar perorangan memasang materi tanpa mengurus server. Perbandingan berbagai pilihannya ada di platform e-learning.

Platform komunitas dengan fitur kelas cocok untuk e course hibrida, karena materi dan diskusi berada di satu tempat. Di TumbuhBareng, kamu bisa membuat komunitas yang berisi diskusi, kelas, dan acara. Paket Gratis memungkinkan satu komunitas tanpa biaya, sedangkan keanggotaan berbayar tersedia di paket berbayar, seperti tercantum di halaman harga. Kalau peserta membayar keanggotaan secara rutin, konsepnya dibahas di membership berbayar dengan QRIS.

Apa pun pilihannya, periksa tiga hal: apakah peserta mudah masuk dan menemukan pelajaran berikutnya, apakah cara pembayarannya cocok untuk calon peserta di Indonesia, dan apakah kamu bisa memindahkan materi bila suatu hari pindah platform.

Menjaga peserta sampai selesai

Kursus yang dibeli tetapi tidak diselesaikan jarang menghasilkan testimoni, rekomendasi, atau pembelian kursus berikutnya. Karena itu, membantu peserta sampai selesai sama pentingnya dengan membuat materi.

Diagram empat kebiasaan untuk membantu peserta menyelesaikan e course: pelajaran pendek, jadwal ringan, tempat bertanya, dan penanda kemajuan
Empat kebiasaan sederhana yang membantu peserta tetap berjalan sampai modul terakhir. Ilustrasi: TumbuhBareng
  • Pelajaran pendek. Peserta yang punya waktu sepuluh menit tetap bisa maju satu langkah.
  • Jadwal ringan. Sarankan ritme, misalnya satu modul per pekan, dan kirim pengingat yang sopan, bukan pesan beruntun.
  • Tempat bertanya. Jawab pertanyaan dengan cepat di awal kursus, saat peserta paling mudah menyerah. Pertanyaan yang sering muncul bisa dijadikan pelajaran tambahan.
  • Penanda kemajuan. Tanda selesai per pelajaran dan perayaan kecil di akhir modul memberi rasa maju. Ide penghargaan seperti ini dibahas di gamifikasi komunitas dan leaderboard.

Acara rutin, seperti sesi tanya jawab bulanan, juga menjaga peserta tetap terhubung. Ide formatnya bisa kamu ambil dari ide acara komunitas online.

Kesalahan umum saat membuat e course

Beberapa kesalahan berikut sering membuat e course sepi peminat atau ditinggalkan peserta, padahal mudah dicegah.

  1. Topik terlalu luas. "Belajar digital marketing" sulit dijual dan sulit diselesaikan. "Membuat iklan pertama untuk toko online" jauh lebih jelas.
  2. Merekam sebelum validasi. Berjam-jam materi bisa terbuang kalau ternyata calon peserta membutuhkan hal lain.
  3. Video panjang tanpa jeda. Satu video yang membahas banyak hal membuat peserta sulit kembali ke bagian tertentu.
  4. Tidak ada latihan. Peserta merasa paham saat menonton, lalu bingung saat mencoba sendiri.
  5. Janji berlebihan. Hindari janji penghasilan atau hasil yang tidak bisa kamu buktikan. Jelaskan apa yang dipelajari dan untuk siapa kursus ini cocok.
  6. Materi tidak pernah diperbarui. Tampilan aplikasi dan aturan berubah. Jadwalkan pemeriksaan materi secara berkala.

Kesimpulan

E course adalah kursus yang dipelajari lewat internet dengan susunan modul, pelajaran, latihan, dan tempat bertanya. Kunci e course yang berhasil bukan peralatan mahal, melainkan hasil akhir yang jelas, materi yang dipecah kecil, dan dukungan agar peserta tidak berhenti di tengah jalan.

Mulailah dari satu topik spesifik, validasi dengan calon peserta, lalu luncurkan versi pertama dan perbaiki dari masukan mereka. Kalau kamu ingin memasang kursus bersama komunitas pesertanya di satu tempat, kamu bisa membuat komunitas gratis di TumbuhBareng dan melihat contoh komunitas lain di halaman jelajah.

Sumber

  1. Wikipedia. Massive open online course. en.wikipedia.org
  2. TumbuhBareng. Harga. tumbuhbareng.com/harga

Pertanyaan yang sering muncul

Apa itu e course?

E course atau electronic course adalah kursus yang materinya disampaikan dan dipelajari lewat internet. Isinya biasanya berupa modul yang berisi video, materi tertulis, latihan atau kuis, dan tempat bertanya, sehingga peserta bisa belajar tanpa harus datang ke kelas fisik.

Apa bedanya e course dengan webinar?

Webinar biasanya satu sesi langsung dengan satu topik dan berakhir dalam satu atau dua jam. E course disusun bertahap dalam beberapa modul, punya hasil akhir yang jelas, dan bisa dipelajari selama beberapa hari sampai beberapa pekan. Rekaman webinar bisa menjadi bahan e course, tetapi perlu dipotong dan disusun ulang.

Apa bedanya e course dengan MOOC?

MOOC atau massive open online course adalah jenis e course yang dirancang untuk peserta dalam jumlah sangat besar dan umumnya terbuka. Menurut Wikipedia, istilah MOOC dicetuskan pada 2008. Tidak semua e course adalah MOOC, karena banyak e course dibuat untuk kelompok kecil dan berbayar.

Apa saja jenis e course?

Berdasarkan cara belajarnya, ada tiga jenis umum. E course mandiri berisi materi rekaman yang bisa dipelajari kapan saja, e course kohort dimulai dan diselesaikan bersama dengan jadwal sesi langsung, dan e course hibrida menggabungkan materi rekaman dengan komunitas serta acara tanya jawab rutin.

Berapa lama durasi video yang ideal untuk e course?

Tidak ada angka baku yang berlaku untuk semua topik. Prinsip yang aman adalah satu video untuk satu topik, sehingga peserta bisa menyelesaikannya di sela kesibukan dan mudah menemukan kembali bagian yang ingin diulang. Kalau satu video membahas beberapa hal sekaligus, pecah menjadi beberapa pelajaran.

Apakah membuat e course butuh peralatan mahal?

Tidak harus. Banyak pengajar memulai dengan ponsel atau laptop, mikrofon sederhana, dan ruangan yang tenang. Yang lebih menentukan adalah kurikulum yang jelas, suara yang terdengar bersih, dan materi yang menjawab masalah peserta.

Bagaimana cara menjual e course?

Validasi topik dengan calon peserta lebih dulu, tetapkan hasil akhir yang dijanjikan, lalu siapkan halaman yang menjelaskan isi, untuk siapa kursus ini, dan cara membayarnya. Kursus bisa dijual sekali bayar atau dibungkus dalam keanggotaan berbayar bersama komunitas.

Di mana sebaiknya e course dipasang?

Pilihannya antara lain learning management system, platform kursus, website sendiri, atau platform komunitas yang menyediakan fitur kelas. Pilih berdasarkan kebutuhan peserta, cara pembayaran yang mereka pakai, dan seberapa penting interaksi antarpeserta untuk kursusmu.

Siap membangun komunitasmu?

Mulai gratis. Diskusi, kelas, dan acara dalam satu tempat.